Saturday, September 17, 2016

TOKOH TASAWUF DI INDONESIA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perkembangan tasawuf di Indonesia berkaitan erat dengan proses islamisasi di kawasan Nusantara. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar penyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para sufi. Berdirinya kerajaan Islam Pasai menjadi titik sentral penyiaran agama Islam ke berbagai daerah di Sumatra dan pesisir utara Pulau Jawa. Penyebaran Islam ke Pulau Jawa juga berasal dari kerajaan Pasai, terutama berkat jasa Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak, dan Ibrahim Asmoro yang ketiganya adalah abituren Pasai. Karena kegigihan dan keuletan mereka maka lahirlah kerajaan Islam di Jawa yaitu Kerajaan Demak yang kemudian menguasai Banten dan Batavia melalui Syarif Hidayatullah. Perkembangan Islam di Pulau Jawa kemudian digerakkan oleh Wali Sanga. Sebutan tersebut sudah cukup menunjukkan bahwa mereka adalah penghayat tasawuf yang sudah sampai pada derajat “wali”.


B.     Rumusan Masalah
1.      Menjelaskan tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia
2.      Menjelaskan ajaran yang di bawa tokoh-tokoh tasawuf
3.      Menjelaskan penyebaran yang di lakukan di pulau-pulau jawa


C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia
2.      Untuk mengetahui ajaran yang di bawa tokoh-tokoh tasawuf
3.      Untuk mengetahui penyebaran yang di lakukan di pulau-pulau jawa


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Syeikh Hamzah Fansuri

Kiranya namanya di nusantara, kalangan ulama dan sarjana penyelidik keislaman tidak asing lagi. Hampir semua penulis sejarah Islam mencatat behwa Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya Syeikh Samsudin Sumatrani adalah tokoh sufi yang sepaham dengan al-Hallaj, faham hulul, ittihad, mahabbah dan lain-lain adalah seirama. Syeikh Hamzah Fansuri diakui salah seorang pujangga islam yang sangat populer di zamannya, sehingga kini namanya menghiasi lembaran-lembaran sejarah kesusteraan Melayu dan Indonesia. Namanya tercatat sebagai tokoh kaliber besar dalam perkembangan islam dinusantara dari abadnya hingga abad ini.

Sufi yang jelas-jelas berpengaruh luar biasa dalam kehidupan intelektual al-Fansuri adalah Muhyidin ibnu ’Arabi. Akan tetapi, karya-karya al-Fansuri juga menunjukkan bahwa dia akrab dengan ide-ide para sufi semisal al-Jilli (wafat 832 H/ 1428 M), Aththar (wafat 618 H/ 1221 M), Rumi(wafat672H/1273M),dll.[1]

B.     Syeikh Yusuf Makasari

Seorang tokoh sufi yang agung yang tiada taranya, berasal dari Sulawesi ialah Syeikh Yusuf Makasari. Beliau dilahirkan pada 8 Syawal 1036 H atau bersamaan dengan 3 Juli 1629 M, yang berarti belum beberapa lama setelah kedatangan tiga orang penyebar Islam ke Sulawesi (yaitu Datuk Ri Banding dan kawan-kawannya dari Minangkabau). Untuk diri sebesar ini selain ia dinamakan dengan Muhammad yusuf diberi gelar juga dengan ”Tuanku Salamaka”, ”Abdul Mahasin”, ”Hidayatullah” dll.

Dalam salah satu karangannya beliau menulis diujung namanya dengan bahasa arab ”al-Mankasti” yaitu mungkin yang beliau maksudkan adalah ”Makassar” yaitu nama kota di Sulawesi Selatan dimasa pertengahan dan nama kota itu sekarang diganti pula dengan ”Ujung Pandang” yaitu mengambil nama yang lebih tua dari pada nama Makasar.

Naluri atau fitrah pribadinya sejak kecil telah menampakkan diri cinta akan pengetahuan keislaman, dalam tempo relatif singkat al-Qur’an 30 juz telah tamat dipelajarinya. Setelah lancar benar tentang al-Qur’an dan mungkin beliau termasuk seorang penghafal maka dilanjutkannya pula dengan pengetahuan-pengetahuan lain yang ada hubungannya dengan itu. Dimulainya dengan ilmu nahwu, ilmu sharaf kemudian meningkat hingga keilmu bayan, mani’, badi’, balaghah, manthiq, dan sebagainya.

Beriringan dengan ilmu-ilmu yang disebut ”ilmu alat” itu beliau belajar pula ilmu fiqih, ilmu ushuludin, dan ilmu tasawuf. Ilmu yang terakhir ini nampaknya seumpama tanaman yang ditanam ditanah yang subur. Kiranya lebih serasi pada pribadinya. Namun walaupun demikian adanya tiadalah dapat dibantah bahwa Syeikh Yusuf juga mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, seumpama ilmu hadist dan sekte-sektenya, juga ilmu tafsir dalam berbagai bentuk dan coraknya, termasuk ”ilmu asbaabun nuzul ”, ”ilmu tafsir”dll.[2] Karangan-karangan Syeikh Yusuf Tajul Khalwati yang berbahasa arab mungkin merupakan salinan tulisan tangan telah diserahkan oleh Haji Muhammad Nur (salah seorang keturunan khatib di Bone dan mungkin adalah keturunan Syeikh Yusuf sendiri).

Kitab-kitabnya antara lain :[3]
Ar-Risalatun Naqsabandiyyah, Fathur Rahman, Zubdatul Asraar, Asraaris Shalaah, Tuhfatur Rabbaniyyah, Safinatunnajah, Tuhfatul Labiib.

C.    Syiekh Abdul Rauf as-Singkili

Nama lengkapnya Abdul Rauf Singkel dalam ejaan bahasa arab disebut ’Abd ar-Rauf bin ’Ali al-Jawiyy al-Fansuriyy as-Sinkilyy, selanjutnya akan disebut Abdurrauf. Ia adalah seorang Melayu dari Fansur, Sinkil (Singkel) di wilayah pantai barat laut Aceh. Hingga saat ini tiak ada data pasti mengenai tanggal dan tahun kelahirannya. Akan tetapi menurut hipotesis Rinkes, Abdurrauf dilahirkan sekitar tahun 1615 M. Rinkes mendasarkan dugaannya setelah menghitung mundur dari saat kembalinya Abdurrahman dari tanah Arab ke Aceh pada 1661 M.[4]

Abdurrahman wafat pada tahun 1693 M dan dimakamkan disamping makam teuku Anjong yang dianggap paling keramat di aceh, dekat kuala sungai Aceh. Oleh karena itulah di Aceh ia dikenal dengan sebutan Teuku di Kuala. Berkat kemasyurannya, nama Abdurrauf diabadikan menjadi nama sebuah perguruan tinggi di Aceh, yaitu Univeraitas Syiah Kuala.

Abdurrauf telah menghasilkan berbagai karangan yang mencakup bidang fiqih, hadist, tasawuf, tafsir al-Qur’an, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Beberapa karangan yang dihubungkan dengan Abdurrauf dibidang tasawuf antara lain :[5] Tanbih al-Masyi al-Manshub Ila Thariq al-Qusyassyiyy (pedoman bagi orang yang menempuh tarekat al-Qusyasyiyy, bahasa arab) ’Umdah al-Muhtajin Ila Suluk Maslak al-Mufarridin (pijakan bagi orang-orang yang menempuh jalan tasawuf, bahasa melayu).

Sullam al-Mustafidin (tanga setiap orang yang mencari faedah, bahasa Melayu). Piagam tentang Dzikir (bahasa Melayu). Kifayah al-Muhtajin Ila Masyrab al-Muwahhidin al-Qa’ilin bi Wahdah al-Wujud (bekal bagi orang yang membutuhkan minuman ahli tauhid penganut Wahdatul Wujud, bahasa Melayu).

D.    Nuruddin Ar-Raniri

Nuruddin Ar-Raniri lahir di kota Ranir Pantai Gujarat, India. Tahun kelahirannya tidak di ketahui tetapi banyak ahli yang memperkirakan ia lahir di akhir abad 16. Guru yang paling berpengaruh adalah Abu Nafs Sayyid Imam bin ‘Abdullah bin Syaiban, seorang guru Tarekat Rifa’iyah. Ar-Raniri merupakan tokoh pembaharuan Islam di Aceh. Pembaharuan utamanya adalah memerangi aliran Wujudiyyah yang dianggap aliran sesat. Karya-karya beliau antara lain Ash-Shirath Al-Mustaqim, Bustan As-Salatin fi DzikirAl-Awwalin wa Al-Akhirin, Durrat Al-Farra’idh bi Syarhi Al’Aqa’id, Syifa Al-Qulub.

Mengenai ketuhanan, Ar-Raniri berupaya menyatukan paham Mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili oleh Ibn Arabi. Ia berpendapat ungkapan “wujud Allah dan Alam Esa” berarti alam ini merupakan sisi lahir dari hakikat batin yaitu Allah SWT sebagaimana yang dimaksud Ibn Arabi. Tetapi hakikatnya alam ini tidak ada yang ada adalah wujud Allah Yang Esa. Jadi ia berpendapat bahwa alam ini tidak bisa dikatakan berbeda dengan Allah atau bersatu dengan Allah, alam ini merupakan tajalli Allah SWT.

E.     Syekh Nawawi Al-Bantani (1230-1314 H / 1815- 1897 M)

Lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab beliau melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Di usia beliau yang belum lagi mencapai 15 tahun, Syaikh Nawawi telah mengajar banyak orang.

Dalam bidang tasawuf ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf ortodok. Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya Syekh Khatib Sambas, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, bahkan tidak ikut menjadi anggota tarekat, namun ia memiliki pandangan bahwa keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut.

Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah hasil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat. Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dimakzulkan (dibedakan) dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.

F.     HAMKA

Hamka, atau nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (lahir di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia pada 17 Februari 1908 - 24 Julai 1981) adalah seorang penulis dan ulama terkenal Indonesia. Ayahnya ialah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau. Beliau melibatkan diri dengan pertubuhan Muhammadiyah dan menyertai cawangannya dan dilantik menjadi anggota pimpinan pusat Muhammadiyah.Beliau melancarkan penentangan terhadap khurafat, bida'ah, thorikoh kebatinan yang menular di Indonesia.

Oleh itu,beliau mengambil inisiatif untuk mendirikan pusat latihan dakwah Muhammadiyah. Sebagai realisasi dari upayanya memurnikan kembali ajaran tasawuf, Hamka menulis beberapa karya yang berkenaan dengan tasawuf. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok pikirannya, sebagaimana yang terdapat dalam bukunya, Tasawuf Moderen.
1.      Tentang Harta Benda dan Kekayaan
2.      Al-Qana’ah
3.      Tawakkal 

G.    Walisongo

Wali Songo yang sangat berperan dalam penyebaran Islam di Indonesia khususnya Tanah Jawa, mempunyai andil yang besar dalam mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Pada abad ke-12 M, peranan ulama tasawuf sangat dominan di dunia Islam. Hal ini antara lain disebabkan pengaruh pemikiran Islam al-Ghazali (wafat 111 M), yang berhasil mengintegrasikan tasawuf ke dalam pemikiran keagamaan madzab Sunnah wal Jamaah menyusul penerimaan tasawuf di kalangan masyarakat menengah. Hal ini juga berlaku di Indonesia, sehingga corak tasawuf yang berkembang di Indonesia lebih cenderung mengikuti tasawuf yang diusung oleh al-Ghazali, walaupun tidak menutup kemungkinan berkembang tasawuf dengan corak warna yang lain.

Abdul Hadi W. M. dalam tesisnya menulis : “Kitab tasawuf yang paling awal muncul di Nusantara ialah Bahar al-Lahut (lautan Ketuhanan) karangan `Abdullah Arif (w. 1214). Isi kitab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran yang wujudiyah Ibn `Arabi dan ajaran persatuan mistikal (fana) al-Hallaj”. Sehingga sejarah mencatat di samping Wali Songo sebagai pengusung tasawuf sunni juga muncul Syekh Siti Jenar sebagai penyebar tasawuf falsafi dengan ajaran ‘manunggaling kawula gusti’. Aliran tasawuf yang berkembang pada zaman Walisongo dikelompokan menjadi 2 yaitu :

  1.   Tasawuf Sunni 
  2. Tasawuf Falsafi

H.    Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatraaniy

Beliau adalah seorang keturunan ulama, ayahnya bernama Abdullah as-Sumatri, dan mendapat pendidikan kesufian dari Syekh Hamzah Pansuri. Syamsuddin Sumatrani dikenal dengan nama Syamsuddin Pasai. Ia pernah belajar Ilmu Tasawuf pada syekh Hamzah Pansuri dan Sunan bonang di Jawa.Dia lebih giat menulis buku tasawuf daripada gurunya (Hamzah Pansuri), dan keberhasilannya karena ditunjang oleh dana yang memadai. Dan di antara karya-karyanya adalah : Jawaahirul Haqaaiq, Tanbiihuth Thullaab Fi-Ma'arifati Malikil Wahhaab, Risaalatul Bayyinatil Mulaahazbatil Muwahhidiin 'Alal Muhtadiy Fi-Dzikrillah, Kitab al-Halaqah dan Nur al-Daqaiq, Sirr al-'Arifin, Mir'at al-Iman, Dzikr al-Da'irah Qausai al-Adna, Mir'at al-Qulub, Syarah Mir'at al- Qulub, Kitab Ushul al-Tahqiq dll.

Tentang Allah, Syamsuddin Sumatrani mengajarkan bahwa Allah itu Esa adanya, Qadim, dan Baqa. Tentang Penciptaan. Menggambarkan tentang penciptaan dari Dzat yang mutlak. Tentang manusia ia berpendapat bahwa manusia seolah-olah semacam objek ketika Tuhan menzahirkan sifatnya. Semua sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia ini hanyalah sekedar penggambaran sifat-sifat Tuhan dan tidak bearti bahwa sifat-sifat Tuhan itu sama dengan sifat yang dimiliki manusia.

I.       Syekh Abdus Shamad Al-Falimbani

Ia termasuk seorang Shufi, putra dari seorang Ulama Tasawuf yang terkemuka di zamannya, bernama Syekh Abdul Jaiil bin Abdil Wahhab bin Syekh Ahmad Al-Mahdan Al- Yaman. Dari beberapa ungkapannya, ia sering mengatakan; seorang Shufi tidak boleh belajar dan berdzikir saja, tetapi ia harus tampil membela agama Islam dengan perjuangan pisik. Karena itu, ia gugur di medan peperangan ketika ia turut memimpin pasukan Muslim melawan Siam (Muanthai) yang hendak melenyapkan agama Islam.

Mengenai kitab karangannya yang memuat ajaran Tasawuf antara lain : Shiraatul Muriid Fi-Bayaan Kalimatir Tauhid, Hidaayatus Saalikiin, Siyaarus Saalikin (empat jilid), Urwatul Wutsqaa, Nashiihatul Muslim Wa-Tadzkratul Mu'minin Fi-Sabilillah, Ratiib Syekh abdish Shamaad Al-Falimbaaniy.

J.      Syeikh Burhanuddin (1646-1693 M)

Beliau merupakan penduduk asli Minangkabau, lahir pada tahun 1056 H/1646 M dan meninggal pada bulanSyafar 1111 H/1693 M. Murid dari Syekh Abdul Ra‟uf Singkel yang berpaham Syafi‟I, Beliau mendirikan madrasah dan mengajar di ulakan,diantara murid-murid yang pernah belajar dengan beliau adalah; TuankuMansingan Nan Tuo, Tuanku Imam Bonjol.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Perkembangan tasawuf di Indonesia berkaitan erat dengan proses islamisasi di kawasan Nusantara. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar penyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para sufi. Adapun tokoh-tokoh sufi yang sangat berpengaruh di Indonesia adalah Hamzah Fansuri, al-Raniri, Abd. Rauf Sinkel, Abd Shamad al-Palembani, Sheh Yusuf al-Makassari, Nawawi al-Bantani, dan Hamka. Dari tokoh-tokoh tersebut di atas Islam di Indonesia berkembang dan dapat di terima oleh masyarakat bangsa Indonesia, walau tidak bisa di pungkiri ada perbedaan dan pertentangan di antara ajaran seorang sufi yang satu dengan tokoh sufi yang lain.

B.     Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini terdapat kekurangan. Oleh karena itu kepada para pembaca, khususnya kepada dosen pembimbing untuk mengkritik makalah ini yang bersifat konstruktif, kami ucapkan terima kasih.





DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, Nawash. Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di nusantara, Surabaya: al-Ikhlas, 1999
Fathurrahman, Oman. Tanbih al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abadc 17, Bandung: Mizan, 1999
Nassr, Sayyid Husein. Ensiklopedi Tematis Spiirtualitas Islam Manifestasi, penterj. Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan Media Utama, 2003
Wahyudi, Agus. Inti Ajaran Makrifat Islam-Jawa: Menggali Ajaran Syeikh Siti Jenar dan Wali Songo dalam Perspektif Tasawuf, Yogyakarta: Pustaka Dian Yogyakarta, 2006
Zoet Mulder, P.J. Manunggaling Kawula Gusti, Pantheisme dan Monoisme dalam Sastra Suluk Jawa, penterj. Dick Hartoko, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1990


[1] Abdullah, Nawash. Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di nusantara, Surabaya: al-Ikhlas, 1999
[2] Nassr, Sayyid Husein. Ensiklopedi Tematis Spiirtualitas Islam Manifestasi, penterj. Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan Media Utama, 2003
[3] Ibid 205
[4] Fathurrahman, Oman. Tanbih al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abadc 17, Bandung: Mizan, 1999
[5] Ibid 175

No comments:
Write komentar