Monday, October 17, 2016

Teori Belajar dalam Islam

Get PPT here

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kemajuan suatu bangsa bisa dilihat pada apresiasi negara pada dunia pendidikan dan ilmu pngetahuan sementara pendidikan tidak bisa terlepas dari hasil pemikiran para tokoh. Pendidikan adalah sesuatu yang sangat urgen untuk dijadikan upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Kaum intelektual telah mengamati bahwa salah satu karakter khas peradaban Islam adalah perhatian yang serius tentang pencarian terhadap berbagai cabang ilmu, pada awal era modern, para pemikir dan pemimpin Islam telah menyadari pentingnya pendidikan sebagai upaya untuk memajukan umat, terutama untuk menghadapi hegemoni sosial ekonomi dan kebudayaan barat.

Pendidikan Islam dalam perkembangan mengalami pasang surut, dasar-dasarnya tertata rapi sejak Nabi Muhammad Saw membawa risalahnya Al-Quran yang mulia dan terealitasi dalam tradisi yang praktis dan cukup baik. namun perkembangan yang signifikan terjadi pada abad pertengahan, di mana konteks Islam dalam budaya Yunani mulai terjadi, Islam yang sudah menjadi semakin indah yang filsafatnya berkembang pesat pada masa itu. Namun sebagai hal yang wajar seiring dengan perputaran dunia kebudayaan Islam seolah ikut berputar 180 derajat di bawah barat. 

Ungkapan tentang “Pintu pendidikan terbuka seluas-luasnya bagi siapa saja yang berkeinginan untuk belajar agama dan lain-lain, kapan saja dan di mana saja”. Itulah demokrasi yang hakiki di dalam pendidikan dan pengajaran yang diungkap oleh Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi dalam prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam atau التربية الاسلامية وفلا سفتها.

Dalam kitab التربية الإسلامية وفلاسفتها karya Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi diterangkan bahwa jiwa dari pendidikan Islam ialah pendidikan moral dan akhlak. Berangkat dari fenomena di atas penulis mencoba untuk mengkaji lebih mendalam mengenai konsep ‘Athiyah Abrasyi tentang pendidikan dan akhlak dalam Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Menjelaskan pengertian dari Pendidikan Islam menurut ‘Athiyah al-Abrasyi
2.      Menjelaskan prinsip dari Pendidikan Islam menurut ‘Athiyah al-Abrasyi
3.      Menjelaskan implementasi dari Pendidikan Islam menurut ‘Athiyah al-Abrasyi

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian Pendidikan Islam menurut ‘Athiyah al-Abrasyi
2.      Untuk mengetahui prinsip dari Pendidikan Islam menurut ‘Athiyah al-Abrasyi
3.      Untuk mengetahui implementasi dari Pendidikan Islam menurut ‘Athiyah al-Abrasyi



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan Islam

Secara etimologi pendidikan dalam pendidikan islam kadang-kadang di sebut At-Taklim. At-Taklim biasanya diterjemahkan penjamuan makan, atau pendidikan sopan santun. Sedangkan Al Ghazali menyebut pendidikan dengan sebutan Ar Riyadhat. Ar Riyadhat dalam arti bahasa diterjemahkan dengan olah raga atau pelatihan, sedangkan masa sekarang popular disebut dengan tarbiyah, karena menurut Athiyah Al Abrasyi. At Tarbiyah adalah suatu kegiatan yang mencakup keseluruhan kegiatan pendidikan. Pendidikan adalah upaya mempersiapkan individu untuk kehidupan yang lebih sempurna dalam etika, sistematika dalam berpikir, memiliki ketajaman intuisi, giat dan berkreasi, serta memiliki toleransi dengan yang lain, berkopetensi memiliki dalam mengungkapkan bahasa lisan dan tulis, dengan dibekali keterampilan-keterampilan. Sedangkan secara terminology Mustafa AL-Maraghy membagi kegiatan at-Tarbiyah dengan dua macam, Pertama tarbiyah khalqiat yaitu penciptaan, pembinaan, pengembangan jasmani peserta didik agar dapat dijadikan sarana pengembangan jiwanya kedua tarbiyah diniyah tahzibiyah, yaitu pembinaan jiwa manusia dan kesempurnaannya melalui petunjuk wahyu ilahi. Dan dalam masyarakat Islam, istilah yang digunakan untuk pendidikan adalah tarbiyah (تربية), ta’lim, (تعليم) ta’dib (تأذيب). Dan sekarang berkembang secara umum di dunia Arab adalah tarbiyah ternyata masih merupakan masalah khilafiyah, (kontroversial)[1]

Pengertian pendidikan Islam menurut ‘Athiyah  dalam kitab at-Tarbiyah al-Islamiyah Wafalasifatuha adalah :
أن التّربية الإسلامية تتمثل فيها المبادئ (الديمقراطيه) من الحرية والمساواة وتكافؤ الفرص فى التعليم, من غير تفرقه فى طلبه بين الموسرين والمعدمين, وأن المسلمين كانوا يعدون طلب العلم فريضة دينية, وواجبا روحيا, لاوسيلة لغرض مادي, ويقبلون عليه بقلوبهم وعقولهم ويطلبونه برغبة قوية من تلقاء أنفسهم, وكثيرا ماكانو يقومون برحالات طويلة شاقة فى سبيل تحقيق مسألة علميّة دينيّة.
Sesungguhnya pendidikan Islam itu meliputi prinsip-prinsip (demokrasi), yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara si kaya  dan si miskin, sesungguhnya mencari ilmu bagi mereka merupakan suatu kewajiban dalam bentuk materi, bukan untuk tujuan materi (kehendak), dan menerima ilmu itu dengan sepenuhnya hati dan akal mereka, dan mencarinya dengan keinginan yang kuat dari dalam dirinya, dan mereka banyak melaksanakan perjalanan panjang dan sulit dalam rangka memecahkan masalah-masalah agama. Pernyataan ‘Athiyah di atas menunjukkan bahwa pendidikan Islam itu merupakan sesuatu yang memang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat secara umum dan menyeluruh, karena prinsip-prinsip yang ada pada kenyataannya dapat menjadikan kehidupan ini lebih bahagia baik di dunia maupun di akhirat.[2]

Selain itu, manusia adalah makhluk-makhluk “animal educable” artinya manusia adalah makhluk yang dapat dididik, dan menurut Langeveld, manusia adalah “animal education” artinya manusia itu harus dididik, dan manusia adalah “home educandos” artinya manusia adalah yang bukan saja harus didik tetapi juga mendidik, sehingga pendidikan bagi manusia merupakan suatu keharusan yang mutlak atau manusia memang harus memperoleh pendidikan. Pendidikan disini merupakan bimbingan dan pimpinan yang secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Dan ini melalui proses belajar, dimana pengertian belajar menurut Clifford T. Morgan dan Richard A. King adalah : “learning may be defined as any relatively permanent change in behavior which occurs as a result of experience or practice”.[3]

B.     Prinsip Pendidikan Islam

Bila diperhatikan arah pendidikan modern di abad ini dengan mempelajari prinsip-prinsip, metode-metode dan sistem-sistemnya, maka akan ditemukan bahwa pendidikan Islam telah menyuarakan banyak prinsip serta metode penting dalam dunia pendidikan. Hal tersebut dapat diungkapkan secara ringkas sebagai berikut :
1.      Prinsip kebebasan dan demokrasi dalam pendidikan
Islam telah menyerukan adanya prinsip persamaan dan kesempatan yang sama dalam belajar, sehingga terbukalah jalan yang mudah untuk semua orang, tanpa diskriminasi antara kaya dan miskin, serta tinggi atau rendahnya starata sosial. Ajaran Islam menganggap bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban agama, kewajiban rohaniah, serta bukan untuk memberikan keuntungan materi duniawi, dimana pelajar dapat dengan sepenuh hati belajar yang didorong oleh kemauan keras dari diri mereka masing-masing untuk menjadi orang-orang yang sesuai dengan cita-cita dan kemampuan mereka.
2.      Pembentukan akhlak yang mulia adalah tujuan utama pendidikan Islam
Pembentukan moral yang tinggi adalah tujuan utama dari pendidikan Islam. Pada saat pendidikan Islam mengutamakan segi-segi kerohanian dan moral, maka segi-segi pendidikan mental, jasmani, matematik, ilmu sosial, dan jurusan-jurusan praktis tidak diabaikan begitu saja, sehingga dengan demikian pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang lengkap, dan pendidikan tersebut telah meninggalkan bekas yang tidak dapat dibantah dalam berbagai bidang serta pencapaian ilmu tersebut dalam keilmiahannya.
3.      Pendidikan sesuai kemampuan akal manusia didik
Prinsip ini adalah salah satu prinsip terpenting dalam pendidikan Islam dan termasuk pula prinsip terbaru dalam pendidikan modern. Mengenai hal ini Rasulullah saw. telah bersabda :
ماَ اَحَدٌ يُحَدِّثُ قَوْماً بِحَدِيْثٍ لاَ تَبْلُغُهُ عُقُوْلُهُمْ إِلاَّ كاَنَ فِتْنَةً عَلىَ بَعْضِهِمْ (الحديث)
“Seseorang yang menyampaikan kepada suatu kaum atau golongan pembicaraan yang tidak sesuai dengan akalnya, maka hal demikian hanya akan menimbulkan fitnah di kalangan mereka”.
4.      Variasi metode pengajaran
Menurut al-Ghazali, seorang juru didik mempunyai kewajiban utama dalam mengajarkan siswanya terhadap segala sesuatu dengan metode yang mudah dipahami serta variatif, sebab masalah-masalah yang terlalu sulit akan mengakibatkan kekacauan pikiran dan menyebabkan lari atau malas belajar.
5.      Pendidikan Islam adalah pendidikan bebas
Orang-orang yang memperhatikan metode pendidikan dalam Islam akan melihat bahwa pendidikan Islam itu menuju ke arah pembiasaan siswa untuk dapat mandiri, dimana setiap guru atau dosen setiap akhri pelajaran, memberikan assignment (tugas) kepada siswa untuk mempelajari isi buku sebelum pelajaran yang akan datang dan mencoba untuk mengerti isi buku tersebut. Metode seperti ini dalam istilah pendidikan modern disebut metode Dalton, yaitu suatu metode modern yang diciptakan oeh Missa Helen Parkherest.
6.      Sistem pendidikan individu dalam pendidikan Islam
Pendidikan individu ialah pendidikan yang memperhatikan kekuatan setiap individu dari segi kemampuannya mempelajari bahan-bahan yang dipelajarinya. Sistem pendidikan ini menyerukan terwujudnya hubungan baik antara guru dan murid yang memperhatikan tingkat pembawaan dan kesediaan belajar dari seorang siswa dan menganjurkan pula pengembaraan untuk belajar dan pembahasan-pembahasan ilmiah.
7.      Perhatian atas pembawaan dan insting dalam tuntunan pemilihan spesialisasi
Islam mengharapkan dari setiap guru agar mempelajari keadaan setiap siswa bila ia memiliki kelebihan-kelebihan dalam memahami pelajaran, dimana ia sanggup menguraikan problem-problem, mengungkapkan problematik ilmiah dan memperhatikan soal-soal pelajaran sesungguhnya.
8.      Cinta ilmu dan siap belajar
Setiap siswa yang cinta ilmu akan senang sekali belajar, akan menggunakan seluruh waktunya melakukan penelitian, pembacaan dan studi, serta akan berupaya memecahkan problematik ilmiah dan mencernakan ilmu pengetahuan yang ia dapat.
9.      Perhatian terhadap cara berbicara, berpidato dan berdiskusi
Yakni pembiasaan lidah mengucapkan kata-kata yang baik serta pemikiran yang tajam, berpidato tanpa teks serta keterampilan dalam berdebat atau berdiskusi. Kelancaran lidah dalam berbicara merupakan suatu syarat pokok suksesnya seseorang menjadi guru, politikus, dan lain sebagainya.
10.  Pelayanan anak didik secara halus
Salah satu bentuk pendidikan ideal adalah memberantas cara-cara kasar dan keras dalam pendidikan yang dapat dianggap sebagai pembunuh cita-cita, penumpulan kepintaran dan selanjutnya membawa pada kehinaan penipuan dan rasa rendah diri.
11.  Sistem Universitas Rakyat diambil dari sistem pendidikan Islam
Agama Islam adalah agama ilmu dan cahaya, bukan agama kejahilan, kebodohan dan kegelapan. Sedangkan sistem Universitas Rakyat  adalah tiruan dari sistem pengajaran dalam pendidikan Islam di zaman keemasannya.
12.  Perhatian terhadap perpustakaan
Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pembentukan perpustakaan adalah ciptaan pendidikan Islam demi mendorong para ulama, sarjana, dan mahasiswa untuk melakukan penelitian, membaca, studi dan menyalin buku-buku berharga serta menterjemahkan apa yang patut diterjemahkan dan apa yang patut digali dari buku-buku agama dan eksak.
13.  Jabatan asisten dalam lembaga pendidikan
Jabatan asisten adalah suatu sistem pendidikan yang menggunakan asistensi mengajar setelah murid menyelesaikan pelajarannya.

C.     Implementasi Pendidikan Islam

Menurut ‘Athiyah tujuan utama dari pendidikan Islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, laki-laki maupun perempuan, memiliki jiwa yang bersih, kemauan keras, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi, mengetahui arti kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, mengetahui perbedaan buruk dengan baik, memilih salah satu fadhilah, menghindari suatu perbuatan yang tercela, dan mengingat Tuhan dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan.[4] Ketika Allah hendak memuji nabi-nabinya, Allah SWT berfirman :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم : 4 )
Sesungguhnya engkau memiliki moral dan akhlak yang tinggi. (al-Qalam : 4)

1.     Pendidikan budi pekerti di masa anak-anak
Seperti ungkapan Ibnu Jauzi menulis dalam bukunya At-Tarbiyah ar-Ruh (pengobatan jiwa), yang dikutip penulis dalam buku at-Tarbiyah al-Islamiyah karya ‘Athiyah, sebagai berikut : “Pembentukan yang utama ialah diwaktu kecil, apabila seseorang anak dibiarkan melakukan sesuatu (yang kurang baik) sehingga telah menjadi kebiasaannya, sukarlah meluruskannya, “Artinya : pendidikan budi pekerti yang tinggi, wajib dimulai di rumah, dalam keluarga, sejak kecil, dan jangan membiarkan anak-anak tanpa pendidikan, bimbingan, dan petunjuk-petunjuk. Bahkan, sejak kecil ia harus dididik sehingga tidak terbiasa dengan adat dan kebiasaan yang tidak baik.  Bila dibiarkan saja, tidak diperhatikan, tidak di bimbing, ia akan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, sehingga sukarlah mengembalikannya dan memaksakannya untuk meninggalkan kebiasaan tersebut. Ringkasnya pemeliharaan lebih baik daripada perawatan.
2.      Metode pendidikan akhlak (moral) dalam Islam
Menurut ‘Athiyah, untuk pendidikan moral dan akhlak dalam Islam, terdapat beberapa metode atau cara, antara lain sebagai berikut :[5]
a.   Pendidikan secara langsung, yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasehat, menyebutkan manfaat dan bahayanya sesuatu.

Diantara kata-kata berhikmat, wasiat-wasiat yang baik dalam bidang pendidikan moral dan akhlak anak-anak, menurut ‘Athiyah disebutkan sebagai berikut :
- Sopan santun adalah warisan yang terbaik
- Budi pekerti yang baik adalah teman sejati
- Mencapai kata mufakat adalah pemimpin yang terbaik
- Ijtihad adalah pandangan yang menguntungkan
- Akal adalah harta yang paling bermanfaat
- Tidak ada bencana yang lebih besar daripada kejahilan
- Tidak ada lawan yang lebih terpercaya daripada musyawarah
- Tidak ada kesunyian yang lebih buruk dari pada mengagungkan diri sendiri.

b. Pendidikan akhlak secara tidak langsung, yaitu dengan cara sugesti. Seperti mendiktekan sajak-sajak yang mengandung hikmat kepada anak-anak, mencegah mereka dari membaca sajak-sajak yang kosong.
c.   Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak-anak dalam rangka pendidikan akhlak. Sebagai contoh, mereka (siswa) meniru ucapan-ucapan orang-orang yang berhubungan erat dengan mereka (guru). Oleh karena itu filosof-filosof Islam mengharapkan agar setiap guru berhias dengan akhlaknya yang baik, mulia, dan menghindari setiap yang tercela.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dunia pendidikan yang digeluti ‘Athiyah adalah dunia pendidikan Islam yang telah lama berkecimpung di Mesir pusat ilmu pengetahuan dalam agama Islam.  Pendidikan Islam ini oleh ‘Athiyah diuraikan secara sistematis dari zaman ke zaman baik dari segi prinsip, metode, kurikulum dan sistem pendidikan modern di dunia barat. Selain itu keahlian yang dimiliki ‘Athiyah telah menjelaskan posisi Islam mengenai Ilmu pendidikan dan pengajaran yang berdasarkan al-Quran dan Hadits serta fungsi masjid, institut, lembaga-lembaga, perpustakaan, seminar-seminar dan gedung-gedung pertemuan dalam dunia Islam, sejak zaman keemasannya sampai ke zaman kita sekarang.

Islam menyerukan adanya kemerdekaan, persamaan, dan kesempatan yang sama antara si kaya dan si miskin dalam bidang pendidikan dan mewajibkan setiap muslim pria dan wanita untuk menuntut ilmu.  Pada dasarnya pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi individu sebagai manusia sehingga hidup secara optimal baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat serta memiliki nilai-nilai moral dan sosial sebagai pedoman hidup.  Dengan demikian pendidikan memegang peranan penting dalam menentukan hitam putihnya manusia dan akhlak menjadi standar kualitas manusia, artinya baik buruknya akhlak merupakan salah satu indikator berhasil atau tidaknya pendidikan.

B.     Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini terdapat kekurangan. Oleh karena itu kepada para pembaca, khususnya kepada dosen pembimbing untuk mengkritik makalah ini yang bersifat konstruktif, kami ucapkan terima kasih.




DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’an Karim
Al-Abrasyi, Muhammad ‘Atiyah, at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falaisatuha, Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, 1975, Cet. III.
________________, Dasar Pendidikan Islam, terj. H. Butami A. Gani dan Djohar Bahry, dari Judul asli At-Tarbiyah al-Islamiyah, Bandung : Bulan Bintang, 1970.
_________________, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, terj. Abdullah Zaky al-Kaaf, dari judul Asli At-Tarbiyah al-Islamiyah, Bandung : Pustaka Setia, 2003.



[1]. Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Fafasifatuha, (Kairo : Isa al-Babi al-Halabi, 1975), cet. 3, hlm. 34
[2]. M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar Pendidikan Islam, terj. H. Butami A. Gani dan Djohar Bahry, dari Judul asli At-Tarbiyah al-Islamiyah, (Bandung : Bulan Bintang, 1970), hlm. 9
[3]. Ibid. hlm 12
[4]. M. ‘Athiyah al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, terj. At-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatuha, oleh Abdullah Zaky al-Kaaf, (Bandung : Pustaka Setia, 2003), hlm. 113
[5]. M. Athiyah al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, terj. At-Tarbiyah Ibid., hlm. 114

No comments:
Write komentar